Selasa, 17 Juli 2012

Pemeriksaan refleks fisiologis


 Lengkung Refleks

Refleks adalah suatu respons involunter terhadap sebuah stimulus. Secara sederhana lengkung refleks terdiri dari organ reseptor, neuron aferen, neuron efektor dan organ efektor. Sebagai contoh ialah refleks patella. Pada otot terdapat serabut intrafusal sebagai organ reseptor yang dapat menerima sensor berupa regangan otot, lalu neuron aferen akan berjalan menuju medula spinalis melalui ganglion posterior medulla spinalis. Akson neuron aferen tersebut akan langsung bersinaps dengan lower motor neuron untuk meneruskan impuls dan mengkontraksikan otot melalui serabut ekstrafusal agar tidak terjadi overstretching otot (gambar 1). Namun begitu lengkung refleks tidak hanya menerima respon peregangan saja, sebagai contoh respon sensorik kulit (gambar 2), aponeurosis, tulang, fasia, dll. Gerakan reflektorik dapat dilakukan oleh semua otot seran lintang (Martini, 2006;Snell, 2002).

Refleks yang muncul pada orang normal disebut sebagai refleks fisiologis. Kerusakan pada sistem syaraf dapat menimbulkan refleks yang seharusnya tidak terjadi atau refleks patologis. Keadaan inilah yang dapat dimanfaatkan praktisi agar dapat mengetahui ada atau tidaknya kelainan sistem syaraf dari refleks.

Pemeriksaan reflek fisiologis merupakan satu kesatuan dengan pemeriksaan neurologi lainnya, dan terutama dilakukan pada kasus-kasus mudah lelah, sulit berjalan, kelemahan/kelumpuhan, kesemutan, nyeri otot anggota gerak, gangguan trofi otot anggota gerak, nyeri punggung/pinggang gangguan fungsi otonom.



Interpretasi pemeriksaan refleks fisiologis tidak hanya menentukan ada/tidaknya tapi juga tingkatannya. Adapun kriteria penilaian hasil pemeriksaan refleks fisiologis adalah sebagai berikut:



Tendon Reflex Grading Scale
Grade   Description
0              Absent
+/1+      Hypoactive
++/2+    ”Normal”
+++/3+ Hyperactive without clonus
++++/4+              Hyperactive with clonus


Suatu refleks dikatakan meningkat bila daerah perangsangan meluas dan respon gerak reflektorik meningkat dari keadaan normal. Rangsangan yang diberikan harus cepat dan langsung, kerasnya rangsangan tidak boleh melebihi batas sehingga justru melukai pasien. Sifat reaksi setelah perangsangan tergantung tounus otot sehingga otot yang diperiksa sebaiknya dalam keadaan sedikit kontraksi, dan bila hendak dibandingkan dengan sisi kontralateralnya maka posisi keduanya harus simetris.

Secara umum. Ada 3 unsur yang berperan dalam refleks yaitu jaras aferen, bussur sentral dan jaras eferen.

Perubahan ketiga komponen tersebut akan mengakibatkan perubahan dalam kualitas maupun kuantitas dari refleks. Integritas dari arcus reflek akan terganggu jika terdapat malfungsi dari organ reseptor, nercus sensorik, ganglion radiks postreior, gray matter medula spinal, radik anterior, motor end plate, atau organ efektor. Pengetahuan tentang reflek dapat digunakan untuk menentukan jenis kerusakan yang terjadi pada sistem persyarafan. Ada beberapa pembagian tentang reflek:



1.      Brainstem reflek
Pittsburgh Brain Stem Score

Cara ini dapat digunakan unuk menilai reflex brainstem pada pasien koma.

No          Rrainstem Reflex             Positive                Negative
1              Reflex bulu mata (kedua sisi)      2              1
2              Reflex kornea (kedua sisi)            2              1
3              Doll’s eyes movement (kedua sisi)           2              1
4              Reaksi pupil terhadap cahaya (kanan)     2              1
5              Reaksi pupil terhadap cahaya (kiri)           2              1
6              Reflex muntah atau batuk           2              1
Interpretasi :

Nilai minimum ( 6 )

Nilai Maximum ( 12; semakin tinggi semakin baik)

2.      Superficial reflek/skin reflek


1. Reflex dinding perut:

a. Stimulus : Goresan dinding perut daerah, epigatrik, supraumbilical, infra

umbilical dari lateral ke medial.

b. Respon : kontraksi dinding perut

c. Aferent : n. intercostals T 5-7 epigastrik , n,intercostals T 7-9 supra umbilical,

n.intercostals T 9-11 umbilical, n.intercostals T 11-L1 infra umbilical,

n.iliohypogastricus, n.ilioinguinalis, d. Eferent : idem



2. Reflex Cremaster

a. Stimulus : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah

b. Respon : elevasi testis ipsilateral

c. Afferent : n.ilioinguinalis (L 1-2)

d. Efferent : n. genitofemoralis



C. Cara Kerja



Reflek Fisiologis

1. Penentuan lokasi pengetukan yaitu tendon periosteum dan kulit

2. Anggota gerak yang akan dites harus dalam keadaan santai.

3. Dibandingkan dengan sisi lainnya dalam posisi yang simetris



Refleks Fisiologis Ekstremitas Atas



1. Refleks Bisep

a. Pasien duduk di lantai

b. Lengan rileks, posisi antara fleksi dan ekstensi dan sedikit pronasi, lengan diletakkan

di atas lengan pemeriksa

Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa pada tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah ditekuk pada sendi siku. Respon : fleksi lengan pada sendi siku

Afferent : n.musculucutaneus (C 5-6); Efferent : idem

2. Refleks Trisep

a. Pasien duduk dengan rileks

b. Lengan pasien diletakkan di atas lengan pemeriksa

c. Pukullah tendo trisep melalui fosa olekrani



Stimulus : ketukan pada tendon otot triceps brachii, posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi .Respon : ekstensi lengan bawah disendi siku .

Afferent : n.radialis (C6-7-8); Efferent : idem



3. Reflesk Brakhioradialis

a. Posisi Pasien sama dengan pemeriksaan refleks bisep

b. Pukullah tendo brakhioradialis pada radius distal dengan palu refleks

c. Respon: muncul terakan menyentak pada lengan



4. Refleks Periosteum radialis

a. Lengan bawah sedikit di fleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit dipronasikan

b. Ketuk periosteum ujung distal os. Radialis

c. Respon: fleksi lengan bawah dan supinasi lengan



5. Refleks Periosteum ulnaris

a. Lengan bawah sedikit di fleksikan pada siku, sikap tangan antara supinasi dan

pronasi

b.Ketukan pada periosteum os. Ulnaris

c. Respon: pronasi tangan



Refleks Fisiologis Ekstremitas Bawah



1. Refleks Patela

a. Pasien duduk santai dengan tungkai menjuntai

b. Raba daerah kanan-kiri tendo untuk menentukan daerah yang tepat

c. Tangan pemeriksa memegang paha pasien

d. Ketuk tendo patela dengan palu refleks menggunakan tangan yang lain

e. Respon: pemeriksa akan merasakan kontraksi otot kuadrisep, ekstensi tungkai bawah



Stimulus : ketukan pada tendon patella

Respon : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m.quadriceps femoris

Afferent : n.femoralis (L 2-3-4)

Efferent :idem



2. Refleks Kremaster

a. Ujung tumpul palu refleks digoreskan pada paha bagian medial

b. Respon: elevasi testis ipsilateral



3. Reflesk Plantar

a. Telapak kaki pasien digores dengan ujung tumpul palu refleks

b. Respon: plantar fleksi kaki dan fleksi semua jari kaki



4. Refleks Gluteal

a. Bokong pasien digores dengan ujung tumpul palu refleks

b. Respon: kontraksi otot gluteus ipsilateral

5. Refleks Anal Eksterna

a. Kulit perianal digores dengan ujung tumpul palu refleks

Respon: kontraksi otot sfingter ani eksterna

Reflek Patologis

hoffmann tromer
Tangan pasein ditumpu oleh tangan pemeriksa. Kemudian ujung jari tangan pemeriksa yang lain disentilkan ke ujung jari tengah tangan penderita. Reflek positif jika terjadi fleksi jari yang lain dan adduksi ibu jari

 rasping
Gores palmar penderita dengan telunjuk jari pemeriksa diantara ibujari dan telunjuk penderita. Maka timbul genggaman dari jari penderita, menjepit jari pemeriksa. Jika reflek ini ada maka penderita dapat membebaskan jari pemeriksa. Normal masih terdapat pada anak kecil. Jika positif pada dewasa maka kemungkinan terdapat lesi di area premotorik cortex

Reflek palmomental
Garukan pada telapak tangan pasien menyebabkan kontraksi muskulus mentali ipsilateral. Reflek patologis ini timbul akibat kerusakan lesi UMN di atas inti saraf VII kontralateral

Reflek snouting
Ketukan hammer pada tendo insertio m. Orbicularis oris maka akan menimbulkan reflek menyusu. Menggaruk bibir dengan tongue spatel akan timbul reflek menyusu. Normal pada bayi, jika positif pada dewasa akan menandakan lesi UMN bilateral

Mayer reflek
Fleksikan jari manis di sendi metacarpophalangeal, secara halus normal akan timbul adduksi dan aposisi dari ibu jari. Absennya respon ini menandakan lesi di tractus pyramidalis

 Reflek babinski
Lakukan goresan pada telapak kaki dari arah tumit ke arah jari melalui sisi lateral. Orang normal akan memberikan resopn fleksi jari-jari dan penarikan tungkai. Pada lesi UMN maka akan timbul respon jempol kaki akan dorsofleksi, sedangkan jari-jari lain akan menyebar atau membuka. Normal pada bayi masih ada.

Reflek oppenheim
Lakukan goresan pada sepanjang tepi depan tulang tibia dari atas ke bawah, dengan kedua jari telunjuk dan tengah. Jika positif maka akan timbul reflek seperti babinski

 Reflek gordon
Lakukan goresan/memencet otot gastrocnemius, jika positif maka akan timbul reflek seperti babinski

 Reflek schaefer
Lakukan pemencetan pada tendo achiles. Jika positif maka akan timbul refflek seperti babinski

 Reflek caddock
Lakukan goresan sepanjang tepi lateral punggung kaki di luar telapak kaki, dari tumit ke depan. Jika positif maka akan timbul reflek seperti babinski.

 Reflek rossolimo
Pukulkan hammer reflek pada dorsal kaki pada tulang cuboid. Reflek akan terjadi fleksi jari-jari kaki.

 Reflek mendel-bacctrerew
Pukulan telapak kaki bagian depan akan memberikan respon fleksi jari-jari kaki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar